Kamis, 18 Juli 2013

DEMOKRASI KITA MENGHASILKAN POLITISI TUNAMORAL!

DEMOKRASI KITA MENGHASILKAN POLITISI TUNAMORAL!


Baru-baru ini dunia politik Indonesia dibuat geger dengan berbagai kejadian-kejadian yang sangat memalukan. Dimulai dengan isu korupsi hingga suap menyuap yang alirannya menuju satu muara:eksistensi golongan. Kesehjateraan dan keadilan rakyat hanya menjadi jargon dalam program-program partai. Para politisi alih-alih memberi teladan, mereka malah secara berjamaah mempertontonkan tradisi buruk dunia politik: saling jegal dan saling bohong membohongi. Banyak  yang geram sekaligus bersedih dengan situasi tersebut, termasuk Ahmad Syafi'i Maarif. Lelaki kelahiran ranah Minang 77 tahun lalu tersebut, menyesalkan bahwa situasi buruk itu sebagian besar melibatkan para politisi Muslim, yang seharusnya menurut dia menjadi contoh yang baik. "Saya kecewa dengan mereka, yang telah memperlakukan politik sebagai mata pencaharian,"ujar mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah tersebut.

Bagaimana selanjutnya sikap dan kritik Buya (panggilan akrab Ahmad Syafi'I Maarif) terhadap situasi menyedihkan ini? Bagaimana saran orang tua yang oleh hampir semua kalangan dianggap sebagai guru bangsa itu? Di rumahnya yang mungil dan sederhana (terletak di wilayah Gamping, Yogyakarta), pada Sabtu siang (9/2), ia mengungkapkan segala unek-uneknya tentang situasi politik terkini kepada Hendi Jo dari Islam Indonesia. Berikut petikannya:

Buya, prilaku politik orang-orang Islam tengah menjadi sorotan, terutama pasca peristiwa yang terjadi dengan mantan Ketua PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dan Ketua Umum Partai Demokrat. Komentar anda?

Saya kira ini pertanda jelas bahwa telah terjadi kemerosotan ahlak yang melanda para politisi Muslim. Ahlak mulia sudah tidak menjadi acuan lagi dalam berpolitik. Makanya saya sering bilang, kalau melihat prilaku sebagian besar politisi kita, antara yang selalu mengucapkan bismillah dan tidak, kelakuannya tetap serupa

Mengapa itu bisa terjadi Buya?

Ya karena pragmatisme. Anda tahu begitu banyaknya para politisi yang  berupaya "mengakali" APBN, APBD, BUMD dan lain-lain. Dan yang paling enggak enak, saat melakukannya banyak diantara mereka menggunakan bahasa-bahasa agama. Inilah yang kalau meminjam istilah sahabat saya sastrawan dari Madura (Zawawi Imron) disebut sebagai " merasa benar di jalan yang sesat". Ini jelas bahaya sekali.


Apakah ini sebagai sebentuk konsekwensi logis dari terjunnya Islam ke dunia politik?

Tidak juga. Boleh-boleh saja kok Islam terlibat dalam politik. Tapi caranya harus benar. Dulu ada Masyumi, yang para anggotanya memiliki integritas dan mereka terdiri dari manusia-manusia pejuang. Sungguh sangat berbeda dengan sebagian anak-anak muda yang terlibat di politik saat ini. Para tokoh Masyumi mungkin bisa begitu karena mereka memiliki teladan. Misalnya, mereka tahu betul bagaimana sederhananya dan idealismenya senior mereka Haji Agus Salim sehingga malu untuk melepaskan idealisme mereka. Sekarang, idealisme itu sudah tidak ada.


Padahal seperti PKS misalnya, mereka muncul kan diawali oleh kesederhanaan dan idealisme juga, Buya?

Iya, tapi itu terjadi sebelum mereka masuk pada situasi belum adanya peluang melakukan itu. Setelah ada peluang, kenyataannya mereka ikut pula berkubang. Itulah kalau kita lemah secara karakter dan miskin integritas. Ya tentunya tidak semua, pasti ada kekecualian.

Banyak kalangan bertanya-tanya dengan adanya krisis integritas di kalangan para politisi Islam, apakah masih tepat membawa-bawa nama Islam dalam berpolitik?

Saya pikir sih tidak masalah. Hanya semua prilaku para politisi Islam itu harus sesuai dengan moralitas Islam dong. Kalau tidak sesuai antara perkataan dengan prilaku, itu namanya membajak Tuhan. Resikonya adalah masyarakat jadi tidak percaya dengan para politisi Muslim ini. Bukan berarti saya berpikir bawa para politisi lain sebaliknya, yang lain juga sama saja. Tapi mereka itu kan tidak berlagak suci.

Buya percaya ada konspirasi besar di balik ini semua?

Alasan konspirasi Yahudi segala macam itu bentuk ketidakpercayaan diri atau ini pertanda orang yang sedang hilang keseimbangan. Saya pikir lebih baik jika pakai saja kata-kata misalnya ya namanya manusia tidak bisa lepas dari kesalahan dan kami menyesal dan minta maaf bila terbukti pengadilan nanti membenarkan itu. Saya pikir itu lebih baik.


Anda sendiri punya saran supaya para politisi Muslim keluar dari situasi seperti sekarang?

Ubah kelakuan! (suaranya meninggi) Itu saja. Kalau bawa-bawa nama Islam ya sesuaikan dengan Islam dong prilakunya. Parameternya seorang Islam yang baik sangat jelas kok. Bahwa hari ini lingkungannya kotor, godaannya banyak: iya, tapi hadapi semua itu dong.Jangan malah ikut berkubang dalam lingkungan yang busuk.

Dengan banyaknya hal-hal yang mengecewakan ini, ada kesan demokrasi yang sudah lama berjalan dan kita bangga-banggakan itu, ternyata tidak menghasilkan apa-apa dari sisi moral?

(Menghela nafas) Yaaa karena para pelakunya tuna moral. Jadilah demokrasi kita ini tidak sehat dan menghasilkan politisi tunamoral! Tujuannya demokrasi atau sistem-sistem politik yang baik kan adalah kesehjateraan dan keadilan, nah di Indonesia ini keduanya tidak berjalan. Pertumbuhan ekonomi tidak diikuti oleh pemerataan. Buktinya sekarang, dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia, lebih dari separuhnya hanya berpenghasilan di bawah $2 perharinya. Pemerintah sekarang hanya bangga dengan pertumbuhan ekonomi. Mereka lupa bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa pemerataan, itu menciderai Pancasila.


Kalangan akademisi luar Indonesia (seperti Esposito dan almarhum Fazlur Rahman) banyak yang berharap Islam di Indonesia bisa menjadi pemimpin kebangkitan peradaban Islam di masa depan (mengantikan bangsa Arab), bagaimana ini bia terjadi, jika dalam kenyataanya kita masih terpuruk dalam masalah integritas?

Saya setuju dengan itu. Kalaupun sekarang situasinya begini, saya tegaskan Islam yang baik tidak diwakili oleh Islam politik tapi oleh organisasi-organisasi dan individu-individu Islam  yang bisa melalui ujian-ujian terutama yang terkait dengan masalah moral. Saya percaya, kalau kita hidup baik dan mengacu kepada moralitas, rezeki kita tidak akan henti mengalir kok. Jangan seperti sekarang di mana politik sudah menjadi mata pencaharian. Saya kecewa dengan anak-anak muda yang sekarang aktiv di dunia politik. Mereka yang muncul 15 tahun belakangan ini sama sekali jauh dari harapan untuk menjadi politisi yang baik, mereka ini gagal menjadi negarawan-negarawan. Dan itu memang jauh dari keinginan mereka, karena filsafat hidup mereka adalah pragmatisme.

Ini menjadi indikasi, bahwa anak-anak muda belum siap memegang kendali pemerintahan?

Sama sekali belum. Tapi masa iya harus begini terus? Seharusnya anak-anak muda ini mulai berpikir radikal, merubah semuanya dalam bingkai moralitas yang diajarkan Islam versi Al Qur'an dan prilaku Rasulullah, bukan versi yang lain-lain. Dan satu lagi, kalau orang-orang Muslim mau terjun menjadi politisi, usahakanlah kondisi ekonominya baik dulu. Jangan sampai nanti mereka menjadikan politik sebagai mata pencaharian. (hendijo/Islam-Indonesia.foto:hendijo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar